Undzur Maa Qoola Wala Tandzur Man Qoola Kini Dirasa Basi, Maka Penting Akhlak Bagi Seorang Da'i
Akhlak Point Penting
Pernahkah anda mendengar pribahasa dalam Bahasa araba tau biasa disebut dengan mahfudzat yang bunyinya: Undzur maa qola, wala tandzur man qola, yang artinya beginni, lihatlah apa yang diucapkan dan jangan meliahat siapa yang mengucapkan. Kalau apa yang dikatakan baik dan benar juga bermanfaat, maka ambillah, amalkan, dari siapapun, tanpa harus melihat bografi yang bicara, akhlak dan tampilan fisik yang berbicara. Eits, tapi itu dulu, seiring dengan perkembangan jaman, pribahasa itu perlahan pudar, jaman now Anyone does not only communicate what he says, but he also communicates who is, perkataan seseorang tidak bisa langsung diterima begitu saja, tapi melihat dari siapa perkataan itu dilontarkan. Ini menunjukan bahwa orang orang di jaman sekarang akan percaya akan mendengar terhadap suatu perkataan dengan melihat siapa yang mengatakannya. Oleh sebab itu kita harus perbaiki diri sebelum menyampaikan kepada orang lain, jika apa yang kita katakana mau diterima oleh orang lain. Atau dalam Bahasa agama biasa disebut dengan ibda’ binafsik (mulai dari diri sendiri.
Bagi Keberhasilan Dakwah
Oleh: Eunis Khoerunnisa, S. Sos.I., M. Ag
(Umi Sasya)
Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Sirnarasa (Umi Sasya)
Pernahkah anda mendengar pribahasa dalam Bahasa araba tau biasa disebut dengan mahfudzat yang bunyinya: Undzur maa qola, wala tandzur man qola, yang artinya beginni, lihatlah apa yang diucapkan dan jangan meliahat siapa yang mengucapkan. Kalau apa yang dikatakan baik dan benar juga bermanfaat, maka ambillah, amalkan, dari siapapun, tanpa harus melihat bografi yang bicara, akhlak dan tampilan fisik yang berbicara. Eits, tapi itu dulu, seiring dengan perkembangan jaman, pribahasa itu perlahan pudar, jaman now Anyone does not only communicate what he says, but he also communicates who is, perkataan seseorang tidak bisa langsung diterima begitu saja, tapi melihat dari siapa perkataan itu dilontarkan. Ini menunjukan bahwa orang orang di jaman sekarang akan percaya akan mendengar terhadap suatu perkataan dengan melihat siapa yang mengatakannya. Oleh sebab itu kita harus perbaiki diri sebelum menyampaikan kepada orang lain, jika apa yang kita katakana mau diterima oleh orang lain. Atau dalam Bahasa agama biasa disebut dengan ibda’ binafsik (mulai dari diri sendiri.
Begitupun dalam ilmu dakwah, ada hal hal yang harus diperhatikan
oleh seorang da’i, terutama yang berkaitan dengan akhlak seorang da’i. Karena
akhlak seorang da’i akan berpengaruh terhadap atsar atau dampak dari dakwahnya.
Sebelum kita berbicara akhlak da'i, baiknya kita tau dulu apa yang dimaksud dengan akhlak, menurut Imam Al Ghazali, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang yang menimbulkan macam macam perbuatan
dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran serta pertimbangan. Jadi akhlak itu murni, bukan kepura puraan, bukan hal yang dibuat buat.
Adapun akhlak da’i meliputi:
1. Amaliyah al qalbiyyah, yaitu amal atau perbuatan hatinya, karena hati adalah pusat atau pokok segalnya, hati adalah motoris amal, jika baik hatinya maka ,otomatis akan berdampak baik pada segala hal, maka yang pertama harus baik adalah amaliyah qalbiyah atau amalan hatinya, isi hati dengan kebaikan kebaikan, dan tidak ada kebaikan yang paling utama mengalahkan semuanya kecuali LAAILAHA ILALLOH, maka dzikir adalah hal yang tidak boleh tidak dilakukan oleh seorang da'i, baik itu dzikir jahar maupun dzikir khofi.
2. Amaliyah AL fikriyyah, seorang da'i mau tidak mau harus mempunyai kecerdasan berfikir, karena dalam hal ihwal dakwah baik metode maupun materi memerlukan pemikiran yang mendalam, supaya apa yang disampaikan berbobot, mengena dan berdampak baik kepada semuanya, sesuai dengan tujuan dakwah. Dalam berfikir juga seorang da'i ada etikanya atau akhlak yang harus diperhatikan, tidak boleh berfikir liar yang akan berdampak terhadap apa yang disampaikannya dan imbasnya diikuti oleh mad'u, tapi berfikirlah dengan kadar yang pas, tidak terlalu ekstrim kiri juga tidak ekstrim kanan, kalau kita pinjam bahasa Dakwah Nahdlatul Ulama ada yang disebut dakwah washatiyah.
3. Amaliyah Al Lisaniyyah, seorang da'i tidak lepas dari kegiatan lisan (orasi) dalam hal ini seorang da.i juga diwajibkan berbicara yang baik atau kalau dalam bahasa agama biasa disebut qaulan kariima, bicara yang lembut atau qaulan layyiina, atau bicara yang mudah disebut qaulan maisura. Dalam berorasi seorang da'i tidak bisa seenae dewe' mentang mentang menguasai panggung bebas bicara, bahkan fenomena yang terjadi banyak para da'i yang berani sumpah serapah, menghujat dan tak jarang marah mara, dan itu kategori akhlak madzmumah, yang harus dibuang jauh oleh seorang da'i, jika ingin tujuan dakwah tercapai dengan baik. Mari berdakwah dengan kata kata yang indah, tidak usah marah marah supaya mad'u bisa mengikuti dengan mudah.
4. Amaliyah Al Jasadiyyah, setelah baik akhlak qalbiyah, fikriyah, lisaniyyah, maka selanjutnya akhlak jasadiyah, perbaiki tingkah laku, sikap, termasuk tampilan diri. Karena seorang da'i bisa dilihat dengan kasat mata bagaimana tampilan luarnya oleh khalayak orang banyak (mad'u) jadi mau tidak mau tampilan harus diperhatikan, supaya yang tampil nyaman dan yang melihat senang.
5. Amaliyah Al iqtishadiyyah, sebagai manusia biasa, da'i juga butuh biaya, tentu selain menjadi da'i juga sebagai pelaku ekonomi, bisa melakukan bisnis apa saja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dalam hal ekonomi juga seorang da'i harus mempunyai etika atau akhlak, jangan sampai melakukan hal hal yang berkaitan dengan usaha perekonomian yang melanggar aturan agama dan negara.
Demikian sekelumit tentang akhlak seorang dai', semoga bermanfaat (Umi Sasya)

Komentar
Posting Komentar