Jurnal


STRATEGI  DAKWAH  HIZBUT  TAHRIR  INDONESIA  DAN  RELEVANSINYA DENGAN  STRATEGI  DAKWAH  NABI
Oleh:
Eunis Khoerunnisa[1]
Abstrak
Hizbut Tahrir Indonesia adalah sebuah lembaga dakwah yang unik dan fenomenal. Selama kurang lebih satu dasawarsa (1998-2008) sangat intensif melakukan dakwahnya, konsepsinya tentang penegakan Syari’at Islam dan sistem pemerintahan Khilafah. Metode deskriptip-analitik digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) landasan dakwah Hizbut Tahrir Indonesia adalah Q.S Ali-Imran ayat 104; (2) tujuan dakwah Hizbut Tahrir Indonesia adalah melangsungkan kehidupan Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia dan untuk membangkitkan kembali umat Islam dengan cara yang benar; (3) strategi yang ditempuh oleh Hizbut Tahrir Indonesia dalam melaksanakan dakwah diambil dari thariqah Nabi Saw.; dan (4) program dakwah Hizbut Tahrir Indonesia pada dasarnya sama dengan Hizbut Tahrir dimanapun, karena mengemban pemikiran, cita-cita dan aktivitas yang sama, yaitu bercermin pada strategi dakwah Nabi Saw.
Kata kunci:
Hizbut Tahrir Indonesia, strategi dakwah










Abstract

Hizbut Tahrir Indonesia is a unique and phenomenal propaganda institution. For one decade (1998-2008) it has exercised a very intensive preaching, conception of Islam, enforcement of Syari’ah and the Khilafah ruling system. Descriptive analytical method is applied in this study. The results show that (1) Hizbut Tahrir Indonesia propagation argument is Surah (Chapter) Ali-Imran verse 104; (2) the purpose of Hizbut Tahrir Indonesia propaganda is to hold Islamic  life and to carry the Islamic propagation to the entire world and to revive Islam in the right way; (3) the strategy adopted by Hizbut Tahrir Indonesia in carrying out the mission is the laws of Personality which is taken from Prophet Sayings; and (4) HizbutTahrir Indonesia propagation program is basically the same as Hizbut Tahrir anywhere, for espousing ideas, ideals and the same activity which reflects on propagation strategy of the Prophet.

Keywords:
Hizbut Tahrir Indonesia, strategy of propagation




























A.    Pendahuluan
Islam adalah agama dakwah, yaitu agama yang selalu mendorong pemeluknya untuk senantiasa aktif melaksanakan kegiatan dakwah. Bahkan maju mundurnya umat Islam sangat bergantung dan berkaitan erat dengan kegiatan dakwah yang dilakukannya (Hafiduddin, 1998: 76). Karena Al-Qur’an menyebut kegiatan dakwah dengan ahsanu qaula (Q.S. Fushilat: 33). Dengan kata lain, bisa kita fahami bahwa dakwah menempati posisi yang tinggi dan mulia dalam kemajuan Islam.
Karena merupakan suatu kebenaran, Islam harus tersebar luas dan penyampaian tersebut merupakan tanggung jawab umat Islam secara keseluruhan. Sesuai dengan misinya rahmatan lil al-alamin, Islam harus ditampilkan dengan wajah yang menarik supaya umat lain beranggapan dan mempunyai pandangan bahwa kehadiran Islam bukan sebagai ancaman bagi eksistensi mereka melainkan pembawa kebenaran sekaligus sebagai pengantar kebahagiaan dunia dan akhirat. Implikasi dari pernyataan Islam sebagai agama dakwah menuntut umatnya agar selalu berdakwah. Karena kegiatan ini merupakan aktifitas yang tidak pernah usai selama kehidupan manusia berlangsung dan akan terus melekat dalam situasi dan kondisi apapun bentuk dan coraknya. Penyelenggaraan dakwah tidak dilakukan sambil lalu saja, tetapi dilaksanakan oleh para pelaksana dakwah secara kerjasama dalam kesatuan-kesatuan yang teratur rapi, dengan terlebih dahulu dipersiapkan dan direncanakan sebaik-baiknya, serta menggunakan sistem kerja yang efektif dan efesien.
Semangat kebangkitan gencar dikampanyeukan oleh Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir adalah sebuah partai politik Islam Internasional yang didirikan oleh Syeikh Taqiyuddin  Al-Nabhani di Yordania tahun 1953 (Solihin, 2005: 10). Pemimpinnya Taqiyuddin Al-Nabhani, meyakini hanya dengan penciptaan ulang satu Negara Islam, jalan hidup seorang Muslim dapat membebaskan dirinya dari pengaruh buruk imperialisme politik dan budaya Barat. Misi dakwah Hizbut Tahrir adalah mengembalikan kehidupan umat Islam ke jaman kejayaannya, Al-Nizham al-Iqtishadi wa al-Siyasi al-Islami (sistem ekonomi dan politik Islam). Ia merupakan satu-satunya alternatif  untuk menangkis penetrasi intelektual (al-Ghazw al-fikr) Barat (Anonimus, 2002: 3). Hizbut Tahrir meyakini bahwa penerapan Syari’at Islam dalam berbagai segi kehidupan akan terpelihara jika umat Islam memiliki institusi politik berupa pemerintahan (Negara) Islam.
Dari latar belakang masalah ini, maka peneliti memandang perlu untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan strategi dakwah Hizbut Tahrir dan pilihannya terhadap hadits strategi dakwah Nabi Muhammad Saw. Untuk itu masalah penelitian ini difokuskan pada:
1.    Apa landasan yang digunakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia dalam berdakwah?
2.    Bagaimana tujuan dakwah yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir Indonesia?
3.    Bagaimana strategi yang digunakan dalam kegiatan dakwah Hizbut Tahrir Indonesia?
4.    Bagaimana program dakwah menurut pandangan Hizbut Tahrir Indonesia?

B.     Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptip-analitik. Sumber datanya terdiri atas sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah beberapa orang yang mempunyai peran penting dalam Hizbut Tahrir Indonesia, diantaranya Jubiroh (juru bicara resmi untuk Muslimah) resmi Hizbut Tahrir Indonesia dan beberapa syabab Hizbut Tahrir. Sumber data sekundernya adalah kepustakaan yang relevan dengan topik ini.
Studi kepustakaan digunakan untuk menghimpun data aktual dari tulisan-tulisan yang berhubungan dengan Hizbut Tahrir untuk menjadi bahan analisis, dan menafsirkannya secara kualitatif. Wawancara digunakan untuk menghimpun data dari syabab Hizbut Tahrir yang dijadikan sumber data pokok dalam penelitian ini yaitu Febrianti Abbasuni, Siti Nafidah, dan Iragandi. Febrianti Abbasuni adalah  Jubiroh resmi Hizbut Tahrir Indonesia, Siti Nafidah, sebagai Ketua Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Jawa Barat, dan Iragandi, seorang aktivis Hizbut Tahrir Indonesia yang mencurahkan sebagian besar perhatiannya pada kegiatan-kegiatan Hizbut Tahrir Indonesia. Studi dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data yang ada dalam berbagai dokumen yang dimiliki oleh Hizbut Tahrir Indonesia.
Untuk menganalisis data, penulis menggunakan teknik deskriptif interpretatip, yaitu mendeskripsikan pemikiran (pemikiran Hizbut Tahrir tentang landasan, tujuan, dan strategi dakwah) dengan cara mengkontruksikan dan menghubungkan secara cermat berbagai data dalam bentuk pernyataan-pernyataan dan pendapat-pendapat dari pendiri dan tokoh utama Hizbut Tahrir yang terdapat dalam buku, tulisan, dokumen atau dalam ceramah dan hasil wawancara.

C.    Hasil Penelitian dan Pembahasan
1.    Pengertian Dakwah
Secara bahasa perkataan dakwah memiliki beberapa arti yang di antaranya adalah sebagai berikut:
a.    Memanggil, dikatakan dalam bahasa Arab (دعا فلا ن فلا نا) “sipulan memanggil sipulan”;
b.    Memohon tentang sesuatu;
c.    Menyeru kepada satu jalan untuk diikuti atau justru untuk dihindari, baik jalan tersebut benar atau salah.
d.   Menyampaikan kata-kata atau memperlihatkan suatu perbuatan yang bertujuan menyeru manusia untuk mengikuti suatu madzhab atau millah.
e.    Berharap atau memohon terhadap suatu kebaikan (Amin, 1999: 17).
Secara istilah dakwah adalah menyampaikan agama Allah dan menyebarkannya dan menunjukkan manusia kepada suatu perbuatan yang akan membawa kepada kebaikan bagi kehidupan dunia dan akhirat serta menerapkan syariat dengan penuh toleransi. Ibnu Taimiyah seperti yang dikutif oleh Muhammad Sa’id Mubarak memberikan definisi dakwah sebagai “menyeru manusia agar beriman kepada Allah, meyakini dan membenarkan apa-apa yang diberitahukan oleh para Rasul serta mentaati segala perintah-Nya” (Mubarak, 2005: 15).




2.    Landasan  Dakwah
Landasan dakwah Islam adalah Al-Qur’an dan Hadits.

a.      Al-Qur’an
Di antara nash-nash yang menunjukkan hal tersebut dan dijadikan landasan dakwah adalah Q.S Ali Imran (3: 104):
وَلْتَكُن مِنْكُمْ أُمَّة يَدْعُونَ إلَى الْخَيْرِوَيَأْمُرُون بِالْمَعْرُوف وَيَنْهَوْن عَن الْمُنْكَرِوَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung” (Soenarjo dkk., 1971: 93).
Ayat di atas menunjukkan bahwa dakwah adalah sebuah kewajiban ditunjukkan dengan digunakannya lam amr pada kata ولتكن, walaupun demikian pada saat di antara umat Islam yang melakukannya maka hukumnya digeser menjadi fardhu kifayah, hal ini ditunjukkan dengan kata منكم

b.      Hadits
Di antara Hadits yang berhubungan dengan kewajiban berdakwah adalah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagai berikut (Muslim, Juz I: 168,  Hadits  No. 71).

71 - حَدَّثَنِي عَمْرٌو النَّاقِدُ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ النَّضْرِ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ وَاللَّفْظُ لِعَبْدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ صَالِحِ بْنِ كَيْسَانَ عَنْ الْحَارِثِ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَكَمِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْمِسْوَرِ عَنْ أَبِي رَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلَّا كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ
 “Telah menceritakan kepadaku Umar al-Naqid dan Abu Bakar ibn al-Nadr dan Abdu Ibnu Humaid dan redaksinya milik Abdu, mereka berkata: telah menceritakan kepada kami Ya’kub ibn Ibrahim ibn Sa’ad dia berkata: telah bercerita kepadaku ayahku dari Shalih Ibnu Kaisan dari al-Harits dari Ja’far ibn Abdullah ibn al-Hakam dari Abdirrahman al-Miswar dari Abi Rafi dari Abdillah bin Mas’ud sesungguhnya Rasulullah Saw. telah bersabda: “Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus oleh Allah kepada suatu umat sebelumku, kecuali ada sekelompok umat yang menjadi hawari (sahabat/penolong) dan sahabat yang berpegang teguh pada sunnah-sunnahnya dan selalu mengikuti perintah-perintahnya kemudian muncul generasi setelah mereka yang berkata atas apa yang tidak mereka kerjakan dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak diperintahkan. Maka barangsiapa yang berjihad dengan tangannya maka ia adalah orang ynag beriman dan barangsiapa yang berjihad dengan hatinya maka ia adalah seorang yang beriman, dan barangsiapa yang tidak melakukan salah satu dari hal-hal tersebut maka berarti dalam dirinya tidak terdapat keimanan walaupun sebesar biji sawi.”(HR. Muslim).

3.      Tujuan Dakwah
Tujuan dakwah terbagi dua, yaitu:
a.  Tujuan dakwah secara umum (major objective), merupakan sesuatu yang hendak dicapai dalam seluruh aktivitas dakwah. Tujuan umum ini adalah mengajak umat manusia (meliputi Muslim dan non muslim) kepada jalan yang benar dan diridhai oleh Allah SWT, agar  mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat;
b.  Tujuan dakwah secara khusus (minor objective) merupakan perumusan tujuan sebagai perincian daripada tujuan umum dakwah. Oleh karena itu dibawah ini disajikan beberapa tujuan khusus dakwah, antara lain adalah:
a.    Mengajak manusia yang sudah memeluk Islam untuk selalu meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT;
b.    Membina mental agama  Islam bagi kaum yang sudah mukallaf;
c.    Mengajak manusia yang belum beriman kepada Allah SWT (memeluk agama Islam);
d.   Mendidik anak-anak agar tidak menyimpang dari fitrahnya.

4.      Strategi Dakwah
a.      Pengertian Strategi Dakwah
            Strategi dapat didefinisikan paling sedikit dari dua perspektif yang berbeda, dari perspektif apa yang dilakukan oleh sebuah organisasi, dan juga dari perspektif mengenai apa yang pada akhirnya dilakukan oleh sebuah organisasi, apakah tindakannya sejak semula memang sudah sedemikian direncanakan atau tidak.
Perspektif yang pertama, strategi adalah “program yang luas untuk mendefinisikan dan mencapai tujuan organisasi dan melaksanakan misinya. Kata”program” dalam definisi ini mengisyaratkan adanya peran yang aktif, yang disadari dan yang rasional, yang dimainkan oleh manager dalam merumuskan strategi perusahaan atau organisasi.
Dari perspektif yang kedua, strategi adalah pola tanggapan organisasi yang dilakukan terhaadap lingkungannya setiap waktu. Dalam definisi ini, setiap oganisasi mempunyai strategi walaupun tidak harus selalu efektif sekalipun strategi itu tidak pernah dirumuskan secara eksplisit. Artinya, setiap organisasi mempunyai hubungan dengan lingkungannya yang dapat diamati dan dijelaskan. Pandangan seperti ini mencakup organisasi dimana para perilaku para managernya adalah reaktif. Artinya para manager menanggapi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan, hanya jika mereka merasa perlu untuk melakukannya (Sirait, 1982, I: 139).
Strategi adalah sebagai penentuan dari tujuan dasar jangka panjang dan sasaran sebuah perusahaan, penerimaan dan serangkaian tindakan dan alokasi dari sumber-sumber yang dibutuhkan untuk melakukan tujuan tersebut.



b.      Asas-asas Strategi Dakwah
            Setiap usaha yang dilakukan mempunyai konsep dasar sebagai tolak ukur yang direncanakan. Begitu pula dalam sebuah strategi mempunyai asas-asas tertentu. Menurut Abin Syamsudin Makmun, bahwa asas-asas strategi terbagi kepada empat macam, yaitu sebagai berikut:
1.    Mengidentifikasikan dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put), seperti apa yang harus dicapai dan menjadi sasarn (target) usaha itu dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya;
2.    Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way), mana yang dipandang paling ampuh (effective) guna mencapai sasaran tersebut;
3.    Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (step) mana yang akan ditempuh sejak titik awal hingga titik akhir tercapainya sasaran tersebut;
4.    Mempertimbangkan dan menetapkan tolak ukur (creterial) dan patokan ukuran (standar) yang bagaimana dipergunakan dalam mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha tersebut (Makmun, 1990: 137).
            Menurut Asmuni Syukir dalam bukunya Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam, asas-asas strategi dakwah terdiri dari lima asas, yaitu:
1.    Asas filosofi, asas ini terutama membicarakan masalah yang erat hubungannya dengan tujuan-tujuan yang hendak dicapai dalam proses atau dalam aktivitas dakwah;
2.    Asas kemampuan dan keahlian (achievement dan professional) dalam mengembangkan organisasi, asas ini lebih menitik beratkan kepada bentuk-bentuk kerja yang bersifat skil baik teori maupun aplikasi;
3.    Asas sosiologis, asas ini membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan situasi, kondisi dan sasaran;
4.    Asas psikologis, asas ini membahas masalah yang erat hubungannya dengan kejiwaan manusia;
5.    Asas afektif, maksudnya adalah didalam aktivitas yang mengembangkan antara biaya waktu dan tenaga yang dikeluarkan dengan pencapaian hasilnya, bahkan kalau bisa, biaya, waktu dan tenaga sedikit dapat memperoleh hasil yang semaksimal mungkin.
Dari pernyataan-pernyataan tentang asas-asas strategi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa strategi adalah merupakan bagian terpenting dalam melaksanakan suatu kegiatan untuk tercapainya tujuan atau hasil kegiatan yang diharapkan.

c.    Tujuan Strategi Dakwah
Tujuan strategi dakwah adalah untuk menyiapakan suatu organisassi terhadap berbagai ancaman dan peluang eksternal yang mungkin membutuhkan tanggapan dimasa yang akan datang yang dapat digunakan. Dengan kata lain, tujuan strategi adalah untuk mempersiapkan organisasi tanggapan secara efektif kepada dunia luar sebelum muncul krisis (Bryson, 2003: 138).
Segala tindakan harus diambil ketika tindakan ini diidentifikasi dan bermanfaat serta memiliki tujuan. Adapun manfaat dari tujuan strategi adalah sebagai berikut:
1.    Gambaran yang cukup jelas akan muncul dari konsepsi besar hingga implementasi terperinci tentang bagaimana organisasi memenuhi mandatnya, mencapai misinya dan secara efektif menanggulangi situasi yang dihadapinya;
2.    Gambaran baru ini harus muncul dari pertimbangan tentang sebaris luas strategi alternative, yang seharusnya didalam dirinya itu mempertinggi kreatifitas solusi yang sederhana, singkat dan sempit terhadap masalahnya;
3.    Jika tindakan diambil ketika tindakan itu diidentifikasi dan berguna untuk meraih realitas baru akan muncul dari kenyataan, bukan hanya dalam konsep;
4.    Implementasi awal atas sekurang-kurangnya strategi pokok akan mendukung pengetahuan organisai-organisasi akan mampu menemukan dengan cepat apakah strategi mungkin efektif, dan strategi itu bisa direvisi atau dikoreksi sebelum benar-benar diimplementasikan;
5.    Mempertinggi moral di antara anggota tim perencana strategi,orang-orang pembuat keputusan, dan anggota organisasi lainnya bisa berasal dari penyempurnaan tugas dan keberhasilan awal dalam pemecahan isu penting;
6.    Pengembangan tim perencanaan strategis selanjutnya (dan tentu saja pengembangan organisasi yang lebih luas) harus berasal dari disiplin yang terus menerus dalam memecahkan masalah pokok secara konstruktif;
7.    Anggota organisasi akan memiliki izin yang mereka butuhkan untuk terus maju dengan implementasi strategi;
8.    Jika semua manfaat dicapai, organisasi akan mencapai kemajuan dengan cara yang efektif dan mulus.
Dengan begitu tujuan adanya strategi adalah mencoba bergerak secara efektif berkenaan dengan lingkungan eksternal dan internal, baik ancaman dan peluang eksternal maupun kelemahan dan kekuatan internal.Untuk itu dibutuhkan pemahan yang menyeluruh berkenaan dengan kedua aspek lingkungan tersebut. Jika tidak, maka hasil yang dicapai bukanlah keuntungan dari modal yang minim akan tetapi sebaliknya.

d.   Unsur-unsur Strategi Dakwah
Menurut Hisyam Ali yang dikutif oleh Rafiudin dan Maman, startegi yang disusun dikonsentrasikan dengan baik dapat menumbuhkan pelaksanaan yang disebut strategi, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.    Strong (kekuatan), yakni memperhitungkan kekuatan yang dimiliki, biasanya menyangkut manusia, biaya dan beberapa hal lain yang harus dimiliki;
2.    Weakness (kelemahan), yakni memperhitungkan kelemahan-kelemahan yang dimilikinya, yang menyangkut aspek kekuatan;
3.    Opportunity (peluang), yakni seberapa besar peluang yang mungkin tersedia diluar, hingga peluang kecil sekalipun dapat diterobos.

e.    Strategi Dakwah Rasulullah Saw.
Dalam menjalankan dakwahnya Rasulullah Saw. senantiasa menggunakan strategi-strategi atau siasat-siasat tertentu. Hal ini dilakukan demi untuk kelangsungan dan sekaligus keberhasilan misinya. Strategi-strategi tersebut diterapkan dengan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi oleh beliau. Adapun mengenai strategi-strategi dakwah tersebut lebih jelasnya adalah sebagai berikut:
1.    Melakukan dakwah secara diam-diam (dakwah sirriyah)
2.    Berdakwah secara terang-terangan
3.    Menawarkan Islam kepada kabilah-kabilah
4.    Melakukan pendekatan pendidikan
5.    Mengirimkan tenaga dakwah (da’i) ke daerah-daerah
6.    Melaksanakan hijrah
7.    Pembentukan dan pembinaan masyarakat baru menuju kesatuan dan persatuan
8.    Melakukan peperangan
9.    Melakukan perjanjian perdamaian Hudaibiyah
10.    Mengirimkan surat kepada Raja-raja (para penguasa) di Luar Neggeri

f.      Landasan Dakwah Hizbut Tahrir Indonesia
Landasan dakwah Islam adalah Al-Qur’an dan setiap organisasi dakwah mempunyai landasan dalam melaksanakan dakwahnya. Begitu pula Hizbut Tahrir Indonesia mempunyai landasan dalam berdakwah yaitu Q.S Ali Imran ayat 104:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”
Ayat di atas menunjukkan bahwa dakwah adalah sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap umat Islam, hal tersebut ditunjukkan dengan digunakannya lam amr pada kata      ولتكن walaupun demikian pada saat di antara umat Islam yang melakukannya maka hukumnya digeser menjadi fardu kifayah, hal ini ditunjukkan dengan kata  مِنْكُمْ.

g.    Tujuan Dakwah Hizbut Tahrir Indonesia
Tujuan dakwah Hizbut Tahrir Indonesia adalah melangsungkan kembali kehidupan Islam dengan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Di samping itu, Hizbut Tahrir bertujuan membangkitkan kembali umat Islam dengan kebangkitan yang benar, melalui pola pikir yang cemerlang. Hizbut Tahrir berusaha untuk mengembalikan posisi umat ke masa kejayaannya dan masa keemasan dulu, dimana Islam dapat mengambil alih kembali Negara-negara dan bangsa-bangsa di dunia dan agar kembali menjadi negara adidaya  di dunia sebagaimana yang telah terjadi di masa silam dan memimpinnya sesuai dengan hukum-hukum Islam. Dakwah Hizbut Tahrir juga bertujuan untuk menyampaikan petunjuk syari’at Islam bagi umat manusia, memimpin umat Islam untuk menentang ide-ide kufur dan kekufuran secara menyeluruh, sehingga Islam dapat menyelimuti dunia ini (Zallum, 2001: 21-23).
Mengenai tujuan dakwah Hizbut Tahrir, diungkapkan pula dalam kitab Manhaj Hizbut Tahrir (Strategi Dakwah Hizbut Tahrir), tujuan dakwah Hizbut Tahrir adalah untuk melangsungkan kehidupan umat Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia, dakwah Hizbut Tahrir juga bertujuan untuk membangkitkan kembali umat Islam dengan cara yang benar, dan Hizbut Tahrir juga bertujuan untuk mengemban risalah Islam ke seluruh dunia.

h.   Strategi Dakwah Hizbut Tahrir Indonesia
Strategi dakwah yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir Indonesia dalam mengemban dakwah adalah menggunakan hukum-hukum syara yang diambil dari trariqah perjalanan dakwah Rasulullah Saw. ketika beliau berdakwah di kota Makkah, karena pada saat ini keadaan umat tidak jauh berbeda dengan umat yang dihadapi Rasulullah Saw. ketika beliau berdakwah di kota Makkah, dan thariqah itu adalah wajib diikuti (Wawancara, Abbasuni, 5 Juni, 2014).
Dalam keterangan lain dikatakan bahwa keberhasilan Nabi Muhammad Saw. dalam mengemban misi profetiknya, disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah langkah dakwah yang ditempuh oleh Nabi Muhammad Saw. secara bertahap, (Ridwan, 2002: 6-7) yaitu sebagai berikut:
1.    Dakwah nafsiah, yaitu dakwah yang bersifat intra personal (intra personal communication), istilah ini diistinbath dari Q.S. 66: 6 yang artinya:
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya Malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Soenarjo dkk., 1971: 951).

Dakwah pada level ini telah dilakukan olen Nabi jauh sebelum beliau dibi’tsah menjadi Nabi dan Rasul, sehingga masayarakat Arab memberikan gelar kepada Nabi dengan sebutan al-Amin.
2.    Dakwah fardiyah, yaitu dakwah yang bersifat interpersonal (interpersonal communication), term ini diistinbathkan dari Q.S.34: 46 yang artinya:
Katakanlah, sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum menghadapi azab yang keras. (Soenarjo dkk., 1971: 691).

Dakwah pada level ini, dilakukan terhadap orang-orang terdekat dengan bai’at, diantaranya Ali ibn Thalib, Khadijah, Abu Bakar, Zaid, dan Ummu Aiman.
3.    Dakwah fi’ah, yaitu dakwah yang dilakukan terhadap kelompok-kelompok kecil (small group communication), term ini diistinbathkan dari Q.S. 2: 249 yang artinya:
 “...berapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar” (Soenarjo dkk., 1971: 61).
Dakwah pada level ini pertama kali dilakukan oleh Nabi pada keluarga bani abdul Muthalib, berdasarkan perintah Allah dalam Q.S. 26: 214 yang artinya:
 “Dan  berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (Soenarjo dkk., 1971: 589).
4.    Dakwah Hizbiyah, yaitu dakwah lewat pendekatan organisasi (organizational communication), term ini diistinbathkan dari Q.S. 5: 56 yang artinya:
 “Dan barangsiapa mengambil Allah dan Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama Allah), itulah yang pasti menang” (Soenarjo dkk., 1971: 170).
Dakwah pada level ini dilakukan oleh Nabi kepada organisasi-organisasi terkemuka dan memiliki pengaruh pada saat itu seperti pada Nadi Quaraisyi (organisasi penya’ir Quraisy) dan Darun Nadwah (organisasi yang memenej kegiatan seputar Ka’bah).
5.    Dakwah Ummah, yaitu dakwah pada khalayah (massa) secara menyeluruh (mass communication), term ini diistinbath dari Q.S. 2: 128, 143 yang artinya:
Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami.Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (Soenarjo dkk., 1971: 33).

Pendekatan dakwah ini dilakukan oleh Nabi setelah mendapat advokasi massa yang banyak, dan perintah dari Allah dalam Q.S. 15: 94 yang artinya:
 “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu), dan berpalinglah dari orang-orang musyrik” (Soenarjo dkk., 1971: 399).

6.    Dakwah Syu’ubiyah – Qaba’yliyah, yaitu gerakan dakwah yang bersifat lintas bangsa dan lintas budaya, term ini diistinbath dari Q.S. 49: 13 yang artinya:
Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal.Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang bertakwa (Soenarjo dkk., 1971: 847).

Pada level keenam ini, aksi dakwah ini dilakukan oleh Nabi setelah beliau memilki kekuatan ganda, yaitu sebagai penyampai misi profetik dan pemimpin politik. Resistensi aksi dakwah ini, lebih banyak dilakukan oleh Nabi ketikan beliau berada di Madinah.
Dalam berdakwah Nabi juga menggunakan berbagai metode. Seperti tersurat dan tersirat dalam Q.S. An-Nahl ayat 125 yang artinya:
Serulah manusia ke jalan Tuhamu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat di jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (Soenarjo dkk., 1971: 421).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa metode dakwah itu meliputi tiga cakupan yaitu Al-Hikmah, al-Mauizhatil Hasanah, dan al-Mujadilah bi-al-Lati Hiya Ahsan. Sedangkan sumber metode dakwah tersebut adalah Al-Qur’an,  sunnah Rasul, sejarah hidup para Sahabat dan Fuqaha, dan pengalaman.

i.      Program Kerja Hizbut Tahrir Indonesia
Berdasarkan ini Hizbut Tahrir menetapakan langkah-langkah operasional dakwahnya dalam tiga tahap:
1.    Tahap tatsqif (pembinaan dan pengkaderan) untuk melahirkan orang-orang yang meyakini fikrah (ide) Islam yang diadopsi Hizbut Tahrir dan untk membentuk kerangka sebuag partai;
2.    Tahap tafa’ul (interaksi) dengan umat agar mampu mengemban Islam sehingga umat menjadikan Islam sebagai perkara utama dalam kehidupannya serta berusaha menerapkannya dalam realita kehidupan;
3.    Tahap Istilam al-Hukmi (menerima kekuasaan) dari umat untuk menerapkan Islam secara praktis dan menyeluruh sekaligus menyebarluaskan risalah Islam ke seluruh penjuru dunia (Al-Nabhani, 2001: 57-59).
Tahap pertama telah dirintis oleh Hizbut Tahrir di kota Quds pada tahun 1372 H (1953 M) oleh pendirinya Taqiyyudin Al-Nabbani. Pada tahap awal ini perhatian Hizbut Tahrir dipusatkan pada upaya pembangunan dan pemantapan kerangka Hizbut Tahrir, memperbanyak pendukung dan pengikut, sekaligus membina para pengikutnya dalam halaqah-halaqah dengan tsaqafah (pemikiran) Islam yang diadopsi Hizbut Tahrir secara terarah dan intensif. Dalam tahap ini  Hizbut Tahrir membentuk partai bersama para aktivisnya yang telah menerima pemikiran-pemikiran yang diadopsi Hizbut Tahrir.
Tahap kedua adalah tahap tafa’ul, yaitu berinteraksi dengan masyarakat, mendorong mereka untuk mengemban dakwah Islam serta membentuk kesadaran dan opini umum atas ide-ide dan hukum-hukum yang dipilih dan ditetapkan Hizbut Tahrir hingga umat menjadikannya sebagai pemikiran mereka, yang akan mendorong mereka untuk mewujudkannya dalam realita kehidupan. Bersama-sama dengan Huzbut Tahrir untuk melakukan aktivitas untuk mendirikan kembali Daulah Khilafah Islamiyah, dengan mengangkat kembali seorang Khalifah bagi kaum Muslimin untuk melanjutkan kehidupan Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.
Pada tahap kedua ini aktivitas dakwah yang dilakukan Hizbut Tahrir adalah sebagai berikut:
1.    Tatsqif Murakkazah (pembinaan intensif dan terarah), yang dilakukan dalam halaqah-halaqah yang diadakan untuk setiap individu pengikut Hizbut Tahrir dalam rangka membentuk kerangka Hizbut Tahrir, memperbanyak pendukung serta melahirkan kepribadian Islam dikalangan pengikutnya. Dengan begitu mereka diharapkan mampu mengemban dakwah Islam serta terjun dalam aktivitas pergolakan pemikiran dan perjuangan politik;
2.    Tatsqif Jama’iyah (pembinaan umum) dilakukan dengan cara membina umat Islam secara umum dengan ide-ide  dan hukum-hukum Islam yang diadopsi oleh Hizbut Tahrir. Ini dilakukan melalui pengajian-pengajian umum di mesjid-mesjid, balai-balai pertemuan, gedung-gedung melalui media massa, buku-buku, selebaran-selebaran dan lain-lain. Tujuannya adalah untuk melakukan kesadaran umum sekaligus berinteraksi dengan umat;
3.    Ash-Shira al-Fikri (pergolakan pemikiran), dilakukan dengan cara menentang berbagai keyakinan, ideology, aturan dan pemikiran yang rusak, menentang segala aqidah yang bathil serta pemikiran yang keliru, salah dan sesat dengan mengungkapkan kesesatan, kepalsuan, kekeliruan dan pertentangannya  dengan Islam; membersihkan umat dari segala bentuk pengaruh pemikiran dan sistem kufur;
4.    Al-Kifah as-Siyasi (Perjuangan politik), dilakukan dengan cara;
a.    Berjuang menghadapi Negara-negara kafir imperialis yang menguasai dan mendominasi negeri-negeri Islam; membebaskan umat dari segala bentuk penjajahan, membongkar berbagai konspirasi negara-negara kafir terhadap kaum Muslimin. Dengan begitu umat Islam bisa lepas dari dominasi dan penindasan para penjajah tersebut;
b.    Berjuang menentang para penguasa di negeri-negeri Arab dan Negara Islam lainnya dengan cara membongkar kejahatan mereka sekaligus menyampaikan nasiahat atau kritik kepada mereka. Hizbut Tahrir akan berusaha mengubah perilaku mereka setiap kali mereka merampas hak-hak umat, tidak melaksanakan kewajiban mereka terhadap umat, mengabaikan umat dan menyalahi hukum-hukum Islam. Hizbut Tahrir juga akan terus berusaha menegakkan kembali kekuasaan yang merujuk sistem hukum Islam.
5.    Tabbani Mashalih al-Ummah (mengadopsi kemaslahatan umat), dilakukan dengan cara memilih sekaligus menetapkan sejumlah kemaslahatan umat demi melayani seluruh urusannya sesuai dengan hukum syari’at.
Agenda besar Hizbut Tahrir pada masa sekarang ini adalah melakukan revolusi pemikiran yang bersumber pada ideologi kapitalisme dan sosialisme serta mengembalikan ideologi Islam sebagai tolak ukur pemikiran umat.Karena itu Hizbut Tahrir menolak penggunaan kekuatan fisik (senjata) dalam aktivitas perjuangannya. Menurut Hizbut Tahrir, penggunaan kekuatan fisik dan militer hanya boleh dilakukan ketika Negara Islam telah berdiri yakni dengan metode qital (perang fisik).
Aktivitas penting lain yang dilakukan Hizbut Tahrir adalah thalab an-Nusrah (memobilisasi dukungan dan bantuan) dari pihak-pihak yang memiliki kekuasaan yang riil ditengah masyarakat, setelah mereka menerima dakwah Islam yang disampaikan Hizbut Tahrir. Hal ini dilakukan untuk meraih dua tujuan, yaitu:
1.    Himayah (Perlindungan terhadap pengemban dakwah) sehingga tetap bisa mengemban dakwahnya;
2.    Sebagai perantara untuk mewujudkan kekuasaan dalam rangka menegakkan kembali khilafah Islam dan menerapkan aturan Islam.
Hizbut Tahrir memandang bahwa semua strategi dakwah di atas juga pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw. bersama para sahabatnya secara terus menerus sejak di Makkah sampai beliau berhasil menegakkan Daulah Islamiyah di Madinah (Wawancara dengan Jubiroh Hizbut Tahrir Indonesia).

D.    Kesimpulan dan Saran
1.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dalam bab-bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
a.  Landansan dakwah Hizbut Tahrir Indonesia adalah Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 104.
b.  Tujuan dakwah Hizbut Tahrir Indonesia adalah melangsungkan kemballi kehidupan Islam dengan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.
c.   Strategi yang ditempuh Hizbut Tahrir dalam berdakwah adalah mengikuti metode dakwah Rasulullah Saw. ketika beliau berdakwah dikota Makkah.
d.  Program dakwah yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir Indonesia meliputi tiga tahap: (1) tahap tatsqif (pembinaan dan pengkaderan); (2) tahap tafa’ul (interaksi); dan (3) tahap istilam al-hukmi (menerima kekuasaan) dari umat untuk menerapkan Islam.

2.    Saran
a.  Dakwah yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir Indonesia telah membuahkan hasil yang sangat berarti dalam pembinaan kepribadian masyarakat Islami. Oleh karena itu, para mad’u direkomendasikan untuk mengadopsi beberapa metode dan strategi yang diterapkan oleh Hizbut Tahrir dalam berdakwah; dan
b.  Penelitian ini masih menyisakan banyak persoalan yang belum terungkap, seperti jaringan dakwah Hizbut Tahrir yang ada di Negara-negara maju dan berkembang serta pola networking yang mereka bangun. Karena itu para peneliti direkomendasikan untuk melakukan penelitian lanjutan di sekitar masalah-masalah tersebut.

E.     Daftar Pustaka
Abdul Aziz, A. (2000) Fiqih Dakwah. Solo: Era Inter Media.
Abdul Aziz, A. (1999) Al- Da’wah Qawa’id wa Ushul. Kairo: Iskandariyah.
Ahmad, A. (1983) Dakwah Islam dan Peradaban Sosial. Cetakan ke-3. Yogyakarta: PT. Prima Duta.
Al-Husaini, H. (1997) Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad Saw. (Sirah al-Musthafa Saw.). Jakarta: Yayasan Al-Hamidi.
Al-Nabhani, T. (2001) Strategi Dakwah Hizbut Tahrir. Terj. Muhammad Maghfur. Bogor: Trariqul Izzah.
Anonimus. (2002) Mengenal Hizbut Tahrir, Partai Politik Islam Ideologis. Terj. Abu Afif. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah.
Bryson, J. (2003) Perencanaan Strategibagi Organisasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bungin, B. (2007) Penelitian Kualitatif. Jakarta: Prenada Media.
Ghalwusy (1987) Al-Da’wah al-Islamiyah. Kairo: Dar Al-Kitab all-Mishr.
Hafifuddin, D. (1988) Dakwah Aktual. Jakarta: Gema Insani Press.
Hasjmy, A. (1994) Dustur Dakwah menurut Al-Qur’an.   Jakarta: PT. Bulan Bintang.
Husain, M. F. (1997) Metodologi Dakwah dalam Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Basritama.
Makmun, A. S. (1990) Pedoman Studi Psikologi Kependidikan. Bandung: IKIP.
Mubarak, S. (2005) Al-Da’wah wa Idarah. Madinah: Maktabah al-Malik al-Wathaniyah.
Mudzakir, A.S. (1996) Terjemah Manna Khalil al-Qaththan (Studi Ilmu-ilmu Al-Quran). Jakarta: Litera Antar Nusa Pustaka Islamiyah.
Muslim. (t.th.) Shahih Muslim (Versi Maktabah Syamilah).
Sirait, S. (1982) Manajemen. Jilid I. Jakarta: Erlangga.
Soenarjo, dkk. (1971) Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: Departemen Agama RI.
Solihin, O. (2005) PerjuanganMenegakanSyari’at Islam di Indonesia dalam Al-Wa’ii No 5 Tahun 5 Edisi Khusus. Jakarta: Hizbut Tahrir Indonesia.
Ya’kub, H. (1992) Publistik Islam (Teknik Dakwah dan Leadership). Bandung: CV. Diponegoro.
Ya’kub, H. (1973) Publistik  Islam dan Teknik Dakwah. Bandung: Diponegoro.
Zallum, A. Q. (2001) Pemikiran Politik Islam. Bangil: Al-Izzah.
Zallum, A. Q. (2002) Sistem Pemerintahan Islam. Bangil: Al-Izzah.




[1]Penulis adalah alumnus Program Pascsarjana UIN SGD Bandung konsentrasi Ilmu Dakwah  dan dosen tetap di STID (Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah) Sirnarasa, Ciamis, Jawa Barat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Undzur Maa Qoola Wala Tandzur Man Qoola Kini Dirasa Basi, Maka Penting Akhlak Bagi Seorang Da'i

DZIKIR JAHAR DAN DZIKIR KHOFI