Jejak my twin's Sajida _ Syakira (Umi tulis ini, suatu saat kalian baca ini)
Syakiraku Duplikatku
by: Umi Sasya
by: Umi Sasya
Syakira, anak Umi yang manis, sedari kecil adalah anak yang selalu mengalah, pengertian terhadap kakak kembarmu Sajida. Kadang Umi berfikir, apa Umi salah manggil kakak sama Sajida dan Adik sama Syakira, karena Syakira adiknya lebih dewasa, lebih pengertian daipada Sajida yang kusebut sebagai kakaknya, karena yang pertama lahir adalah Sajida. Syakira sering mengalah ketimbang Sajida dalam segala hal, walau kadang Syakira menumpahkan kekesalan itu sama Umi, tapi nggak apa apa itu hal biasa untuk anak seusiamu, perlahan pasti itu tidak akan Umi temui dalam dirimu nak.
Ketika Umi punya masalah, kamu yang paling peka, walau Umi nggak pernah cerita apa masalah Umi, kamu selalu membela dan pengertian sama Umi.
Kamu bisa menangis dan kemudian tertawa dengan asyiknya, kamu juga bisa marah kemudian langsung minta maaf atas kemarahanmu. Umi sangat mengerti akan dirimu, Umi sayang kamu, kakakmu juga, jadi, jangan ada anggapan Umi pilih kasih, jadikan latihan kesabaran bagimu, jika Umi sedang memenuhi kebutuhan kakakmu, pun sebaliknya. Sungguh, Umi nggak mau pilih kasih sama anak kembar Umi yang cantik cantik nan sholihah. Semoga kalian khususnya Syakira bisa mengerti Umi dan kakak Sajida.
Syakira, kamu persis seperti Umi waktu kecil (kalau uanya bilang sama saya "Syakira juniormu" (kamu bangettt) ya, wajar itu kan anak saya, hehe
Akhir akhir ini ada beberapa kebiasaan Syakira yang akupun salut terhadapnya, Syakira nggak mau lepas kerudung, bukan hanya waktu ngaji, tapi main pun tetep berkerudung. termasuk ketika tempo hari kita ikut rihlah bersama santri/santriah, Syakira ikut berenang dipantai, kerudungnya nggak dibuka.
Bahkan ketika beres main pasir dan berenang Syakira bertanya "umi bawa kerudung nggak?" ketika saya jawab nggak, karena berangkat dari penginapan ke pantai terburu buru, Syakira nangis (itu salah Uminya yang riweuh teu puguh, hehe) aku dengan sekuat tenaga bujuk Syakira biar mau pake kerudung yang ada.
Saya tawarin pake sorban teman saya yang kebetulan ada disitu, Syakira nggak mau, kemudian ditawarin pake kerudung Uminya, biar Uminya yang pake sorban, atau Umi ambil kerudung dulu ke penginapan, Syakira tetep nggak mau.
Saya tawarin pake sorban teman saya yang kebetulan ada disitu, Syakira nggak mau, kemudian ditawarin pake kerudung Uminya, biar Uminya yang pake sorban, atau Umi ambil kerudung dulu ke penginapan, Syakira tetep nggak mau.
Akhirnya bisa dinegosiasi dengan cara,kerudung yang bekas berenang dipantai kotor dan penuh dengan pasir, dicuci terus dikeringkan alakadarnya, dan Syakira langsung pake lagi. Walau kerudung itu masih basah, dan otomatis membasahi baju yang dipake, tapi Syakira tetep mau berkerudung, bahkan ketika jalan jalan naik sepeda keliling pantai.
Ketika disuruh solat dan ngaji, Syakira selalu semangat paling duluan berangkat, walau kesemangatannya itu kadang membuat kakaknya Sajida rewel karena nggak mau ditinggal.
Baru dua hari dimulai pengajian pesantren kilat menjelang Rhamadan, Syakira semangat mengaji juz amma. bahkan barusan ketika saya tertidur disampingnya, tiba tiba saya terbangun mendengar Syakira ngigau "idza zulzilatil ardhu zilzalaha, waakhrojatil ardu atsqolaha....."
Syakira, Sajida, kalian anak Umi yang membuat Umi selalu bisa tersenyum, selalu semangat menjalani semua ini. Terima kasih buat motivasi yang kalian beri buat Umi, semoga kalian menjadi partner Umi sampai akhir hayat, semoga kalian bahagia dunia dan akhirat, aamiin.
Tulisan ini kelak akan kalian baca, dengan menangis atau tertawa, yang pasti kalian tau bagaimana masa kecil kalian, Umi berharap, ketika kalian bisa membaca tulisan ini, kalian tertawa atau menangis pun menangis bahagia.
Salam sayang dari Umi Sasya (Uminya Sajida_Syakira)



Komentar
Posting Komentar