Mengenal Perempuan perempuan Sufi
Perempuan perempuan Sufi
Oleh: Eunis Khoerunnisa, M.Ag
Berbeda dengan bidang lainnya, dalam wilayah
tasawuf perempuan mempunyai hak yang sama dengan laki-laki, dalam arti
mempunyai kesempatan yang sama untuk mendekatkan diri pada Allah, sehingga
menjadi wajar jika kemudian tercatat dalam sejarah nama sufi perempuan. Namun
acapkali dalam menerangkan tokoh-tokoh sufi perempuan sering tidak lengkap.
Seperti adanya beberapa nama yang sama, sehingga apabila tidak disebutkan
secara lengkap namanya, atau kota kelahiran, tahun kelahiran atau wafatnya,
dimungkinkan terjadi salah informasi. Termasuk dalam hal ini Javad Nurbakhsh,
dari 124 tokoh yang diangkat dalam karyanya, Sufi Women, hanya Rabî’ah al-Adawiyah secara agak lengkap dikupas,
sementara yang lainnya hanya sedikit penjelasannya. Itu pun tanpa disertai
dengan tahun kelahiran atau wafatnya, maupun tempat lahir dan wafat sufi
tersebut, bahkan ada yang disebutkan dengan identitas sebagai gadis di Tepi
Sungai‟,Perempuan di Ka’bah dan beberapa kisah perempuan sufi yang tidak bernama
lainnya. Ketidaklengkapan data tersebut menjadi wajar apabila kembali pada
ajaran sufi itu sendiri yang seringkali dengan melakukan suatu uzlah, bersikap rendah hati, bahkan
seringkali menghindari dari kekuasaan, sementara sejarah Islam yang ada lebih
dikedepankan sejarah politiknya dari pada sosial intelektualnya. Namun
demikian, tidak berarti para sufi perempuan tersebut tidak tercover dalam data
sejarah, khususnya dalam biografi muslim. Sebagai suatu tambahan, kisah-kisah
dalam dunia sufi sering kali tidak disebut sejarah (history), akan tetapi hagiografi (cerita orang-orang suci), karena
dalam ceritanya tidak jarang berbaur dengan kisah-kisah yang bercorak mitos.
Abd al-Rahmân bin Âli bin al-Jawzî (597 H./1200 M.) dalam biografinya tentang kaum sufi
menyebutkan 240 perempuan, hampir seperempat dari seluruh jumlah entrinya. Para
sufi yang tercatat dalam sejarah antara lain: Nafîsah lahir di Mekah tahun 145
H adalah buyut dari Hasan bin ‟Âli bin Abî Thâlib besar di Madinah di mana ia menghabiskan waktunya dengan bekerja
keras dan ibadat kepada Allah swt., dan wafat di Mesir 208 H. Ia sangat dikenal
kemampuannya tentang al-Qur‟an beserta tafsirnya dan sering
mensyairkkannya dengan syair keagamaan sehingga mujtahid besar, Imâm al-Syâfi’î
sering mengunjunginya dan mengadakan diskusi.
Berikut diantara perempuan perempuan sufi:
1. Rabî’ah
al-Adawiyah
Rabî’ah al-Adawiyah memiliki nama lengkap
Ummu al-Khayr bin Ismâ’îl al-Adawiyah al-Qisysyiyah. Lahir di Basrah
diperkirakan pada tahun 95 H. (717 M.). Salah satu ulama yang semasa dengan
Rabî’ah adalah Sufyân Tsawrî (w. 161 H.). Sufyân adalah ulama hadis yang
sangat alim pada saat itu, malah di kalangan kaum muslimin, ia dianggap sebagai
ulama yang paling ahli dalam beribadah, namun dalam kenyataannya ia masih juga
datang ke rumah Rabî’ah untuk mendapatkan nasehat dan hikmah yang diajarkannya
atau datang dalam majlis ilmiah yang
diadakan oleh Rabî’ah. Suatu ketika Sufyân
mohon kepada Rabî’ah, “Wahai Rabî’ah, ajarkanlah kepada kami hikmah
dan kebijaksanaan sebagaimana yang Allah karuniakan kepadamu.” Sufyân mengatakan demikian karena mempunyai keyakinan bahwa hikmah
yang dimiliki Rabî’ah berdasarkan ilham yang datang dari sisi Allah. Dalam
nasehatnya kepada Sufyân, Rabî’ah berkata: “Wahai Sufyân, hidup ini hanya sejenak, bila
hari ini telah berlalu, akan berlalu pula sebagian yang lain, dan sebagian lagi
kemudian berlalu, akhirnya semuanya akan pergi, dan tentu engkau sudah maklum,
maka bersiaplah.
Rabî’ah telah banyak memberikan fatwa kepada
murid-muridnya, sahabatnya sesama sufi, maupun kepada para kerabatnya. Salah
satu ucapan Rabî’ah yang terkenal, yang dikutip dari Shahîfah al-Shâffah karya Ibn Jawzî, adalah: “Aku memohon ampun kepada Allah atas kurangnya ketulusan dan
keikhlasanku dalam memohon ampunan-Nya”.
Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Rabî’ah terus menerus menangis dan meratap. Orang-orang pun bertanya
kepadanya: “Secara alamiah, tangisan ini tampak tidak
jelas dan tidak beralasan sama sekali, namun mengapa engkau menangis?” Rabî’ah menjawab: “Jauh dalam lubuk hatiku ada penyebab dan
alasan bagi kesusahan dan deritaku. Tidak seorang pun dokter bisa menyembuhkan
penyakit ini. Satu-satunya obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini adalah
bersatu dengan “Kekasih”. Dengan berduka seperti ini, aku berharap
semoga kelak aku akan meraih apa yang aku cari; aku berupaya meniru keadaan mereka
yang benar-benar diburu-buru oleh cinta Ilahi, agar aku tidak dipandang kurang
oleh mereka
Menurut Rabî’ah, kepatuhannya kepada Allah bukanlah
tujuan. Sebab ia tidak mengharap surga atau takut akan siksa neraka, akan
tetapi ia mematuhi-Nya karena cinta kepada-Nya. Dan ini adalah peringkat
tertinggi dalam tasawuf, juga bagi para sufi setelahnya. Pendapat ini tercermin
dalam syair sebagai beri-kut:
Tuhanku,
sekiranya aku beribadah kepada-Mu
karena takut neraka-Mu
biarlah diriku terbakar api jahannam Dan
sekiranya aku beribadah kepada-Mu karena mengharap surga-MU jauhkan aku darinya
Tapi sekiranya aku beribadah kepada-Mu hanya
senmata- mata cinta pada-Mu jangan Engkau halangi aku melihat keindahan-Mu yang
abadi.
Pernah Rabî’ah jatuh sakit, sehingga ia tidak bisa bangun
malam untuk beribadah. Mengenai sakitnya, Rabî’ah berkata: “Aku waktu itu amat menderita, sehingga aku
tidak mampu berdiri untuk shalat di malam hari. Oleh
karena itu, berhari-hari aku hanya membaca al-Qur‟an di siang hari. Inilah antara lain ibadah
yang dapat mengangkat derajat orang, baik di dunia maaupun di akherat. Ibadah
juga memberikan ketenteraman dan ketenangan jiwa. Dengan amal ibadahnya, wajah Rabî’ah
selalu kelihatan berseri-seri, karena orang yang selalu mendekatkan diri kepada
Allah dengan tahajud akan mendapatkan limpahan cahaya Ilahi.
Diterangkan dalam satu sejarah, bahwa Rabî’ah
menggali kuburnya sendiri di rumahnya, Rabî’ah biasa berdiri di samping lubang
kubur tersebut, pagi dan sore hari, sambil berkata, “Besok engkau pasti berada di sini.” Kemudian ia banyak melakukan ibadah. Selama
40 tahun ia memelihara kebiasaan ini hingga wafatnya.
Perilaku demikian menunjukkan bahwa Rabî’ah
ingin segera bertemu dengan Kekasihnya, dan itu akan dijumpainya pada saat
ruhnya terlepas dari jasadnya. Di samping itu, perilaku demikian akan
menyadarkan dirinya bahwa kehidupan di dunia harus diisi dengaan aktivitas
sebagai bekal kehidupan di akherat kelak. Demikianlah pengalaman beragama yang
telah sampai pada pengalaman ruhani dalam kehidupan Rabî’ah.
2. Sya’wanah
Sya’wanah adalah mantan budak perempuan hitam
yang kemudian terkenal karena kesufian dan kesalehannya. Dia adalah seorang
perempuan Persia yang tinggal di Ubullah, suatu daerah di tepi sungai Tigris. Sufi
perempuan ini mempunyai suara yang bagus dan biasa berkhutbah dan membacakan
(ayat suci al-Qur‟an dan syair) dengan alunan suara yang indah.
Para zahid dan orang-orang sufi lainnya biasa menghadiri
pengajian-pengajiannya. Sya’wanah merupakan salah satu di antara orang-orang
yang terkenal karena mujahadahnya,
yang takut kepada Tuhan, suka menangis, dan mempengaruhi orang lain untuk
menangis.
Tentang Sya’wanah, al-Ghazâlî mengutip Yahyâ bin Bustâm yang mengatakan: “Aku sering menghadiri majlis Sya‟wanah, dan aku sering melihat ratapan dan
tangisannya. Ia mengatakan: Aku akan menangis hingga air mataku kering, lalu
aku akan menangis lagi hingga darahlah pengganti air mataku, dan taida darah
lagi yang mengucur dari tubuhku. Aku akan senantiasa menangis.”
Dalam
literatur yang lain diceritakan bahwa Quraisyî
berkata: “Aku pergi dengan seorang teman ke Ubullah.
Kami minta izin kepada Sya’wanah untuk bertamu kepadanya.
Setelah menerima kami di gubuknya yang reyot, di dalamnya terlihat kepapaan di
mana-mana, temanku berkata kepada Sya’wanah: “Wahai, kalau saja engkau mau berbelas kasihan
kepada dirimu sendiri dan mengurangi tangisanmu, niscaya lama-kelamaan
keadaanmu akan lebih baik dan engkau akan memperoleh apa yang engkau hasratkan.” Mendengar itu, Sya’wanah menagis lagi, lalu berkata: “Aku bersumpah demi Allah, aku ingin menangis hingga air mataku tak tersisa lagi. Setelah itu aku akan mencucurkan air mata
darah sedemikian rupa hingga tak setetes pun lagi darah yang tinggal di dalam
jasadku.” Quraisyî berkata: “Sahabatku hanya mengulangi permintaannya
kepada Sya’wanah, namun biji mata Sya’wanah lalu
berputar-putar dalam kelopak matanya dan dia menangis dengan air mata darah
hingga jatuh pingsan, dan melihat itu kami lalu bangkit pergi dan
meninggalkannya begitu saja.”
Tentang kebiasannya menangis Sya’wanah berkata: “Mata yang dicegah untuk memandang Sang
Kekasih dan sangat rindu memandangnya, maka tidak akan sempurna tanpa disertai
tangisan.” Mengenai tangisannya, Mu’âdz ibn Fadhl menuturkan: “Sya’wanah banyak menangis hingga kami mengira
dia akan buta karenanya. Ketika aku mengatakan hal itu
kepadanya, dia menjawab: “Demi Allah, lebih baik bagiku menjadi buta di
dunia ini karena air mataku daripada buta di akherat karena api neraka.”
Ketika Sya’wanah telah berusia lanjut,
Fudhayl bin Iyâdz berkunjung kepadanya dan memintanya agar memanjatkan do’a-do’a untuknya. Dia menjawab: “Apakah ada perantara antara engkau dan Tuhan, yang menjadikanmu mengira
bahwa Dia pasti akan mengabulkan do’amu (melaluinya)?” Mendengar ucapan tersebut Fudhayl pun serta merta berteriak dan
kemudian jatuh pingsan.
Sebagaimana Rabî’ah, Sya’wanah selalu berdo’a dan shalat dengan penuh rasa cinta kepada Tuhannya. Matanya buta
bukan saja disebabkan oleh deraian air mata penyesalan, tetapi juga karena
silau oleh cahaya Kekasihnya. Tujuan hidupnya semata-mata untuk dapat mengapai
Kesempurnaan dan Keindahan-Nya, menyatu dengan sahabatnya, dan merasakan
kehadiran-Nya, suatu keadaan yang tidak gampang dicapai oleh seorang sufi.
3. Nafîsah
Nafîsah adalah keturunan Rasul, putri Âlî Muhammad
al-Hasan ibn Zayd ibn Al-Hasan ibn Âlî ibn Abî Thâlib, lahir di
Mekah pada tahun 145 H. dan tumbuh dewasa di Madinah, di mana ia menghabiskan
waktunya dengan bekerja keras dan ibadah kepada Allah, selanjutnya pindah ke
Mesir bersama suaminya, Ishâq ibn Ja’far al-Shâdiq.
Nafîsah adalah seorang perempuan yang rajin
beribadah dan terkenal karena zuhudnya. Di samping itu, juga terkenal dengan
pengetahuannya tentang al-Qur‟an beserta tafsirnya dan sering mensyairkan
dengan syair keagamaan. Bahkan mujtahid besar, Imâm Syâfi’î sering mengunjunginya dan mengadakan diskusi dengannya.
Kewalian Nafîsah hingga saat ini masih
dipercaya oleh orang-orang yang berkunjung ke makamnya, di Mesir. Hal tersebut
terlihat saat penulis mengunjungi makam tokoh perempuan ini di Kairo di mana
peziarah memadati makam yang tetap bersih terjaga. Semasa hidupnya, banyak
peristiwa yang menunjukkan karamah dan kedermawanannya yang menegaskan bahwa
dirinya adalah seorang wali. Terdapat suatu kisah yang menceritakan bahwa pada
suatu waktu sungai Nil mengalami kekeringan. Penduduk bermata pencaharian
sebagai petani gelisah, sebab mereka akan mengalami paceklik dan kesulitan
bahan makanan. Dalam keadaan tertekan mereka mengunjungi Nafîsah, memohon
pertolongan do’a. Ia memberikan kerudungnya dan mengatakan
kepada mereka agar melemparkannya ke dalam sungai. Ketika mereka melakukannya,
tiba-tiba air di sungai meluap, maka terselamatkanlah penduduk di sekitarnya
dari bahaya kelaparan.
Seorang seikh sufi pada Nafîsah menuturkan
bahwa pada masa hidup Nafîsah ada seorang pejabat yang hendak menyiksa
seseorang. Orang tersebut lari mencari perlindungan kepada Nafîsah, dan
perempuan sufi ini berdo’a untuknya, kemudian mengatakan kepadanya
bahwa ia boleh pergi sambil berpesan, “Allah yang Maha Kuasa akan menabiri mata
orang yang zalim sehingga tidak bisa melihatmu.” Orang itu lalu pergi dan masuk ke tengah-tengah tempat berkumpulnya
pengawal pejabat itu dan berdiri di hadapannya: “di mana si Fulan?” pejabat tersebut bertanya kepada para pengawalnya. Mereka menjawab: “dia ada di hadapanmu.” Pejabat tersebut menjawab: “Demi Allah, aku tidak melihatnya. Para pengawalnya berkata: “Dia telah mengunjungi Nafîsah dan minta dido‟akan olehnya. Setelah berdo’a, Nafîsah
mengatakan kepadanya bahwa Allah akan menabirinya dari penglihatan orang yang
zalim.” Karena merasa malu, pejabat tersebut berkata, “Kalau begitu, kezalimanku telah mencapai tingkat sedemikian rupa
hingga hanya karena do’a manusia saja Allah telah menutupi mataku
dari melihat orang yang zalim. Ya Allah, aku bertaubat kepada-Mu.” Ketika pejabat tersebut mengangkat kepalanya lagi, dia melihat orang
yang sedang dicarinya sedang berdiri di hadapannya. Dia pun lalu mendo’akan orang itu, mencium kepalanya dan memberinya seperangkat pakaian
yang bagus, kemudian ia membebaskan orang tersebut dengan penuh rasa terima
kasih. Selanjutnya, pejabat tersebut mengumpulkan kekayaannya dan memberikannya
kepada orang-orang miskin, dan mengirimkan seratus ribu dirham kepada Nafîsah
sebagai tanda syukur karena ia telah bertaubat. Nafîsah mengambil uang tersebut
dan membagi-bagikannya kepada orang miskin.
Keajaiban
lainnya dikisahkan bahwa salah seorang putri tetangga Nafîsah adalah seorang
gadis Yahudi yang menderita sakit lumpuh. Pada suatu hari orang tuanya
menitipkannya untuk ditinggal pergi ke pasar. Nafîsah datang dan duduk di
samping gadis yang memelas, lantas mendo’akannya, dan melalui
do’anya Allah menyembuhkan gadis tersebut dari penyakitnya. Seketika itu
juga orang tua maupun gadis tersebut memeluk agama Islam.
Nafîsah
tinggal selama tujuh tahun di Mesir dan meninggal pada tahun 208 H. Sebelum
meninggal, perempuan sufi ini telah menyuruh orang menggali kubur untuknya dan
membacakan di atasnya al-Qur’an sebanyak enam ribu kali tamat. Dikatakan
bahwa menjelang ajalnya, Nafîsah sedang berpuasa dan orang-orang menyarankan
agar dia membatalkan puasanya. Dia Berkata, “Alangkah anehnya saran kalian, selama 30 tahun
ini aku telah bercita-cita hendak menghadap Tuhanku dalam keadaan berpuasa,
apakah sekarang aku harus membatalkan puasaku? Tidak, tidak mungkin”. Lalu ia membaca Surat al-An’âm, ketika sampai pada ayat 127 dia
menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Ketika
Nafîsah meninggal, seluruh negeri Mesir diliputi suasana berkabung yang sangat
mendalam, lilin-lilin dinyalakan, orang-orang dari desa dan kota berkumpul
untuk memperingatinya. Suara ratapan dan tangisan terdengar dari setiap rumah
di Mesir. Do’a-do’a pun dipanjatkan
untuknya dan ucapan-ucapan duka diungkapkan baginya. Sejumlah banyak orang
berkumpul untuk melaksanakan upacara penguburannya, yang belum pernah terjadi
dan dilihat orang seperti itu sebelumnya di Mesir. Nafîsah dikuburkan di
rumahnya di Dar al-Sâmah, dekat Kairo.
4. Fathîmah
dari Nisyapur
Fathîmah (w. 233 H/838 M) adalah seorang sufi
perempuan semasa dengan Dzu Nûn al-Misrî dan Abû Yazîd al-Bustâmî. Dalam
literatur disebutkan bahwa Fathîmah berasal dari salah satu keluarga tertua di
Khurasan. Dia menghabiskan waktunya dengan beribadah di Makkah, mungkin juga pergi
ke Yerusalem dan kembali lagi ke Mekah, hingga meninggal pada saat melaksanakan
ibadah umrah.
Fathîmah adalah seorang ahli makrifat
terbesar, sehingga Abû Yazîd al-Bustâmî memujinya dan Dzu Nûn al-Misrî meminta
pendapatnya tentang berbagai masalah. Diriwayatkan bahwa suatu ketika dia
mengirim hadiah kepada Dzu Nûn al-Misrî, akan tetapi hadiah tersebut
dikembalikan sambil berkata: “Menerima hadiah dari sufi wanita adalah tanda
kehinaan dan kelemahan.” Fathîmah menjawab: “Tidak ada sufi di dunia ini yang lebih hina dari pada orang yang
meragukan motif sufi lainnya.”
Dalam kesempatan yang lain Dzû Nûn al-Misrî
menjelaskan bahwa Fathîmah berkata: “Orang yang beramal demi Tuhan, sementara
berkeinginan menyaksikan-Nya adalah seorang makrifat, sedangkan orang yang
beramal dengan harapan Tuhan akan memperhatikannya adalah seorang beriman yang
tulus”.
Dzû Nûn al-Misrî juga memuji Fathîmah: “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih utama dari pada seorang
wanita yang aku temui di Mekah, yang bernama Fathîmah dari Nisyapur. Dia biasa
membicarakan masalah-masalah yang berkenaan dengan makna al-Qur‟an dengan cara yang mengagumkan. Dia adalah wali dari sahabat-sahabat
Allah, dia juga guruku”.
Abû Yazîd al-Bustâmî adalah salah seorang
sufi yang pernah memberikan komentar terhadap sosok Fathîmah dengan mengatakan:
“Sepanjang hidupku, aku baru menemukan seorang laki-laki dan satu
perempuan sejati, perempuan itu adalah Fathîmah dari Nisyapur. Setiap kali aku
memberinya informasi tentang salah satu maqam spiritual, dia menerimanya
seolah-olah dia telah mengalaminya sendiri”.
Pada masa selanjutnya, sufi-sufi perempuan
yang tercatat pada abad 8/14 adalah Âîsyah dari Andalus
(705-750 H./1305-1349 M.), Badî’ah binti Sirâj al-Dîn (890 H./1485 M.),
seorang perempuan alim yang menyampaikan pengetahuan menulis syair. Setelah
abad X H./16 M. wanita-wanita sufi lenyap dari koleksi biografi, kecuali
Ruqayyah (1317 H./1899 M.) putri seikh tarekat Sya’diyah di Damaskus. Disamping itu, tercatat satu tokoh perempuan dari
wilayah Afrika, Sokoto sekarang masuk dalam wilayah Republik Negeria bernama Nana Asma’u (1793-1865 M.). Dia adalah seorang guru,
penyair, dan pemimpin perempuan. Tidak tercatatnya para tokoh perempuan seiring
dengan kemunduran peradaban Islam, yang menjadi daerah jajahan bangsa Eropa.
Daftar Pustaka
A. J. Arberry, Muslim Saints and Mystics, Episodes from Tadlkirah al-
Auliya’ (Memorial of the
Saints) by Fariduddin
al-Athar
(London: Routtkedge and Kegan Paul,1966).
Abdul
Mu‟in Qandil, Rabi’ah al-Adawiyah, ter. Royhan Abdullah dan Muhammad Sufyan Amrullah (Surabaya:
Pustaka Progresif, 1995).
Abû „Abd al-Rahmân
al-Sulâmî, Sufi-sufi
Wanita: Tradisi yang Tercadari, ter. Ahsin Muhammad (Bandung: Pustaka
Hidayah, 2004).
Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Departemen Agama, 2000).
Annemarie Schimmel, Dimensi Mistik
dalam Islam, ter. Sapardi
Djoko Damono (et.al.) (Jakarta: Pustaka
Firdaus, 1999).
Azyumardi Azra, “Biografi Sosial Intelektual
Ulama Perempuan:
Pemberdayaan Historiografi”, dalam Pengantar
Buku Ulama Perempuan,
(Jakarta: Gramedia, 2002).
Budhi
Munawar Rahman, “Pengalaman
Religius dalam Logika Bahasa”, dalam Jurnal
Ulumul Qur’an No. 6, Vol. II, 84.
Eva Y. Nukman, Purnama Madinah: 600
Shahabat Wanita Rasulullah SAW yang
Menyemarakkan Kota Nabi (Bandung: al-Bayan, 1997).
J.
Spencer Trimingham, The Sufi Order in Islam (New
York:
Oxford University Press, 1971).

Komentar
Posting Komentar