Syetan Internet Kini Sangat Bermanfaat

Dalam acara stadium general yang diselenggarakan di kampus STID Sirnarasa pada pertengahan Maret 2020 yang diikuti oleh seluruh civitas akademika STID Sirnarasa, dan juga dari pihak Yayasan Cisirri Sirnarasa  dengan  pembicara  Prof. Dr. H. Karim Suryadi, M.Si, beliau adalah guru  besar ilmu komunikasi politik Universitas Pendidikan Indonesia. Beliau menyampaikan Teknologi Kompetensi Komunikasi dan peradaban masyarakat islam pasca 4.0.

Pertemuan singkat namun syarat dengan semangat dan beribu manfaat, saya memahami beberapa hal dari penyampaian beliau yang amat menyenangkan itu, ya penyampaiannya yang asyik, nggak kaku nggak terlalu formal disertai dengan dongeng dongeng sunda seperti Karnadi bandar bangkong yang bisa membius Euis Awang menjadi amat sangat cinta sama kang Karnadi, karena apa? Karena kang Karnadi lihey dalam berkomunikasi, sampai cerita cinta dijaman Jalaludin Rumi yang amat menyentuh hati.

Oke gaesss (haha jangan terlalu serius, kita kan lagi stay at home gegara Corona, jadi dirumahsaja tapi tetep wajib bahagia), nah sebelum kita melanjutkan bahasan ini, mungkin ada diantara pembaca yang masih asing dengan era 4.0, yuk mari kita cari tahu. Belakangan, seringkali kita mendengar istilah revolusi industri 4.0 di berbagai kesempatan. Seperti dikutip dari Line Today, revolusi industri adalah perubahan besar terhadap cara manusia dalam mengolah sumber daya dan memproduksi barang. Revolusi industri merupakan fenomena yang terjadi antara 1750 – 1850. Saat itu, terjadi perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi. Perubahan tersebut ikut berdampak pada kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia.

1.      Revolusi Industri 1.0

Revolusi Industri yang pertama terjadi pada abad ke-18 ditandai dengan penemuan mesin uap yang digunakan untuk proses produksi barang. Saat itu, di Inggris, mesin uap digunakan sebagai alat tenun mekanis pertama yang dapat meningkatkan produktivitas industri tekstil. Peralatan kerja yang awalnya bergantung pada tenaga manusia dan hewan akhirnya digantikan dengan mesin tersebut.

2.      Revolusi Industri 2.0

Revolusi industri 2.0 terjadi di awal abad ke-20. Revolusi industri ini ditandai dengan penemuan tenaga listrik. Tenaga otot yang saat itu sudah tergantikan oleh mesin uap, perlahan mulai tergantikan lagi oleh tenaga listrik. Walaupun begitu, masih ada kendala yang menghambat proses produksi di pabrik, yaitu masalah transportasi. 

3.      Revolusi Industri 3.0

Setelah revolusi industri kedua, manusia masih berperan sangat penting dalam proses produksi berbagai macam jenis barang. Tetapi, setelah revolusi industri yang ketiga, manusia tidak lagi memegang peranan penting. Setelah revolusi ini, abad industri pelan-pelan berakhir dan abad informasi dimulai.

Jika revolusi pertama dipicu oleh mesin uap, revolusi kedua dipicu oleh ban berjalan dan listrik, revolusi ketiga ini dipicu oleh mesin yang dapat bergerak dan berpikir secara otomatis, yaitu komputer dan robot.

4.      Revolusi Industri 4.0

Nah, inilah revolusi industri yang saat ini sedang ramai diperbincangkan. Bahkan, diangkat menjadi salah satu topik dalam Debat Capres 2019. Industri 4.0 adalah tren di dunia industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi siber. Istilah industri 4.0 berasal dari sebuah proyek dalam strategi teknologi canggih Pemerintah Jerman yang mengutamakan komputerisasi pabrik.

Pada industri 4.0, teknologi manufaktur sudah masuk pada tren otomatisasi dan pertukaran data. Hal tersebut mencakup sistem siber-fisik, internet of things (IoT), cloud computing, dan cognitive computing.

Tren ini telah mengubah banyak bidang kehidupan manusia, termasuk ekonomi, dunia kerja, bahkan gaya hidup. Singkatnya, revolusi industri 4.0 menanamkan teknologi cerdas yang dapat terhubung dengan berbagai bidang kehidupan manusia.

Nah, jaman now yang semuanya serba mudah yang ditunjang oleh kecepatan internet, membawa berkah bagi semua umat manusia yang ada di dunia, diantaranya

a.       Internet menciptakan kesederajatan, jika orang sudah masuk atau menggunakan internet maka derajatnya akan sama, tidak ada Dosen tidak ada mahasiswa, tidak ada guru tidak ada murid, pun tidak ada Pejabat dan tidak ada rakyat, semuanya punya derajat yang sama.

b.      Internet menciptakan keleluasaan, diinternet kita bisa beruat apa saja, berkarya, berkreasi tanpa batas.

c.       Internet itu betul betul melayani, jam beraapun kita perlu, dimanapun, mau apapun pasti dilayani, dan internet itu memanjakan semua orang, kalo menurut orang sunda mah teu saban geureuh (tidak mencaci maki) apapun yang kita bikin atau lakukan diinternet.

Tapi dibalik kemudahan dan keberkahan internet itu sendiri, disisi lain internet bisa jadi syetan bagi kita semua, dengan internet kita dapat semua kemudahan, secara tidak langsung itu mendidik kita untuk ingin segalanya mudah, enak dan kumaha aing wehhhh, sementara dalam aturan Islam kita tidak bisa begitu, kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan orang lain, hak mita dibatasi oleh hak orang lain. Internet itu terjangkau dan cepat, secara tidak sadar kita dididik  untuk tergesa gesa, tidak sabaran, dan tidak menghargai proses.

Terlepas dari itu semua, kembali lagi pada diri kita masing masing, internet itu media, dan media itu tergantung bagaimana orang yang menggunakannya. Seperti pisau, bisa kita gunakan untu melukai orang lain, melukai diri sendiri atau bahkan untuk bunuh diri, tapi bisa juga digunakan untuk memasak yang enak enak. Tapi untuk saat ini syetan internet benar benar bermanfaat, hee, terima kasih. Eunis Khoerunnisa, S.Sos.I., M. Ag (Umi Sasya)

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Undzur Maa Qoola Wala Tandzur Man Qoola Kini Dirasa Basi, Maka Penting Akhlak Bagi Seorang Da'i

DZIKIR JAHAR DAN DZIKIR KHOFI