BAGAIMANA TATACARA DAN PELAKSANAAN MANAKIB


Banyak orang yang bertanya khususnya kepada saya, bagaimana sih manakib itu? 

apa saja yang dilakukan ketika manakiban?

Oke, kali ini Umi jawab dengan tulisan sederhana, 

Manakib yang biasa dilakukan oleh kami ikhwan dan akhwat TQN PPS Suryalaya - Sirnarasa adalah pengajian seperti yang dilakukan dimajlis majlis taklim lain, bedaanya, dalam manakib ada susunan acara yang khusus, yang sudah ditentukan, yaitu hidmat Amaliyah sebagai berikut:

- Pembacaan Al-Quran dengan sholawatnya 

- Pembacaan Tanbih 

- Pembacaan Tawasul 

- Pembacaan Manqobah 

- Miftahush Shudur 

- Hidmat Ilmiyah, disampaikan oleh dua sampai tiga orang termasuk oleh Syaikh Mursyid

Kemudian ditutup dengan doa Sholawat Bani Hasyim dan Sholawat Badriyah.


Telah bersabda Nabi saw:
dzikrush shòlihìn kaffàrotun 'anidz dzunùbi wa 'inda dzikrish shòlihìna tanzulur rohmatu wa tahshulul barokatu.

"Mengingat-ingat orang yang sholeh (Wali Alloh) dapat menjadi kifarat untuk menebus dosa. Dan ketika sedang dalam kondisi mengingat-ingat orang yang sholeh tersebut, maka diturunkan oleh Alloh swt rohmat, serta dapat menghasilkan barokah". (HR.Ahmad-Thobroni).

Yang dimaksud dengan dzikrush sholihin adalah manaqib, karena di dalam manaqib ada kegiatan mengingat-ingat riwayat, karomah dan wasiatnya orang yang sholeh tersebut.

Jadi manaqib adalah:

1) Alat untuk menebus dosa.

2) Alat untuk menerima dan mengumpulkan kucuran Rohmat Alloh swt.

3) Alat untuk menghasilkan suatu berkah dan karomah (Wali)


Telah berkata Syekh Mursyid Muhamad Abdul Gaost syaifullohi Maslul (Abah Aos) :

"Apabila sedang mengikuti suatu manaqib, maka harus seperti sedang Wukuf di Arofah".

Arti wukuf adalah DIAM. Jadi untuk menghasilkan tiga alat di dalam manaqib tersebut, harus dengan cara wukuf, yaitu diamnya 7 indra dari anggota badan, yaitu:

(1) telinga tidak mendengarkan suara kecuali suara dari bacaan-bacaan yang dibacakan dalam manaqib.

(2) mata dipejamkan.

(3) hidung bernafas keluar dan masuknya harus diiringi dengan dzikir khofi.

(4) mulut tidak bersuara, kecuali ketika sedang membacakan bacaan-bacaan dalam manaqib.

(5) tangan tidak memegang kecuali alat-alat manaqib.

(6) perut tidak diisi oleh makanan atau minuman ketika sedang berjalan acara manaqib.

(7) kaki dalam posisi diam, baik dengan duduk ataupun berdiri.

Dan yang paling utama adalah HATI harus dalam bertawajuh (berdzikir kepada Alloh swt)

Semoga sedikit penjelasan Manaqib diatas dapat bermanfaat dan membantu ikhwan wal akhwat dalam memahami tentang definisi Manaqib dan kegiatan yang dilakukan..

Bil Barokah Wal Karomah Abah Sepuh, Abah Anom, Abah Aos - Al Faatihah...

Salam bahagia dari pecinta kesucian jiwa,
Eunis Khoerunnisa, S. Sos.I., M. Ag
(Umi Sasya)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Undzur Maa Qoola Wala Tandzur Man Qoola Kini Dirasa Basi, Maka Penting Akhlak Bagi Seorang Da'i

DZIKIR JAHAR DAN DZIKIR KHOFI