MEMELIHARA KEHORMATAN ADALAH BAGIAN DARI AJARAN THARIQOH


Arti Huruf Ha dalam kata  MUHARAM adalah HIFDZUL HURMAH (Memelihara kehormatan)

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam kitab At-Taf-rijul Khothir karya Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani qs. dan dalam Mifatahus Shudur karya Syaikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin ra. yang berbunyi: “Barang siapa yang memelihara kehormatan Allah, Allah akan memelihara kehormatannya”.

Iman Ali bin Abi Thalih kw. pernah berkata: “Apakah manusia tidak melihat bahwa dia tidak menjadi kufur disebabkan maksiat. Akan tetapi akan menjadi kufur karena meninggalkan atau mengabaikan dalam memelihara kehormatan Hifdzul Hurmah)”.

Allah swt berfirman dalam al-Qur’an:

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para Malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam!”, maka merekapun bersujud kecuali Iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud”. Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?”. Iblis menjawab: “Saya lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. Allah berfirmn: “Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang terhina” (QS. Al-A’raf: 11-13).

Dalam ayat lain disebutkan: ”Dan adalah Iblis itu termasuk orang-orang yang kufur” (QS. Al-Baqarah: 24).

Ahmad masruq ra. dalam Risalah al-Qusyairiyyah berkata: “Mengagungkan kehormatan orang mu’min merupakan bagian dari pengagungan kehormatan Allah swt., yang dengannya seorang hamba akan mencapai ke tempat sebenar-benar taqwa”.

Allah swt berfirman dalam al-Qur’an:

“Dan barang siapa yang mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya” (QS. Al-Hajj: 30).

Bersahabat dengan Syaikh dan juga dengan para ikhwan, keduanya merupakan bagian dari pengrealisasian kehormatan-kehormatan Allah swt. Hal ini bagi siapa yang mengharapkan kehormatan dari keduanya. Dalam kitab Tanwirul Qulub, disebutkan: “Barang siapa yang mencari Tuhan, tetapi mengabaikan persahabatan dengan para syaikh, orang-orang faqir, dan meninggalkan hubungan dengan mereka. Hal ini menyebabkannya kembali kepada maqam orang-orang kebanyakan”.

Adapun bentuk seorang murid, hendaklah ia tidak mengatakan kepada syaikhnya dengan prkataan “kenapa”. Telah bersepakat para syaikh tarekat, bahwa seorang murid yang mengatakan “kenapa” kepada syaikhnya, maka ia tidak akan pernah sukses dalam jalannya menuju Allah.

Syaikh Abdurrahman al-Jaili ra. berkata: “Kemungkinan terhalangnya seorang murid dari peningkatan dalam maqamnya adalah hanya disebabkan perkataannya kepada syaikhnya “kenapa”, karena hal tersebut merupakan suatu dosa menurut para ahli tarekat”.

Sesungguhnya tarekat itu seluruhnya adalah adab dan penyempurnaan adab (ta’dib). Orang yang beradab pada syaikhnya, maka ia pun beradab kepada Allah. Orang yang jelek adabnya kepada syaikhnya, maka jelek pulalah adabnya kepada Allah. Rasulullah saw bersabda:


#fadloilusyuhur #SyaikhMuhammadAbdulGaosSM #Mursyid #tqn #waktal #WaktalAbahAos

#ShofaWardianSyauqoni #UmiSasya #EunisKhoerunnisa #adminpost

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Undzur Maa Qoola Wala Tandzur Man Qoola Kini Dirasa Basi, Maka Penting Akhlak Bagi Seorang Da'i

DZIKIR JAHAR DAN DZIKIR KHOFI